Sebuah perjalanan menarik yang perlu kita renungkan bersama selaku guru dimana pun kita berada, kisah yang amat luar biasa bagi guru yang mampu memberikan motivasi bagi siswa yang hanya memiliki satu bidang kecerdasan dan kini menjadi anak dunia yang dikenal .
sesungguhny a siapa ??

Pada Setiap anak didik memiliki potensi dan kemampuan unik . pembentukan  Kondisi ini tidak terlepas dari begitu beragamnya dari factor formal maupun informal. Keberagaman faktor  formal dan informal  berhubungan erat dengan tidak homogennya latar belakang budaya, adatistiadat, norma dan nilai-nilai yang berlaku. Begitu pun dengan semakin kuatnya arus globalisasi bidang informasi dan telekomunikasi, juga memperluas jangkauan interaksi para siswa.

Pada umumnya bagi guru  keunikan karakter yang dimiliki siswa bisa menjadi faktor penghambat saat kegiatan pembelajaran. Sebab, setiap siswa memerlukan perhatian dan penanganan yang berbeda. Hal ini memberikan tantangan tersendiri bagi guru yang menginginkan siswanya tetap unggul dalam setiap mata pelajaran  .

Bila menyimak sejarah kehidupan seorang ilmuwan paling genius  Pada tahun 1999, atau disebut sebagai “Tokoh Abad Ini” oleh majalah Time. yaitu, Albert Einstein, kita akan menemukan fakta menarik bahwa ketika masih kecil, ia diketahui memiliki keterlambatan perkembangan secara emosional. Dia dikenal sebagai anak pendiam, pemalu, dan malas belajar. Walaupun memiliki hasil belajar yang buruk di sebagian besar mata pelajaran sekolahnya, tetapi ia memiliki kemampuan yang luar biasa dalam pelajaran matematika.

Cepat atau lambat pada akhirnya guru-gurunya menyadari potensi cemerlang Einstein. Mereka menodorongnya untuk lebih mendalami kemampuan matematikanya dan tidak memaksakan diri untuk memiliki pencapaian yang sama untuk mata pelajaran lainnya. Akhirnya, dengan bermodalkan kemampuan matematika yang spektakuler, para guru Einstein memperjuangkan mati-matian supaya Einstein dapat melanjutkan pendidikannya ke perguruan tinggi. Bila saat itu Einstein dipaksa untuk memiliki kompetensi dasar yang merata untuk seluruh mata pelajaran sekolahnya maka ada kemungkinan ia tidak akan pernah menjadi ilmuwan seperti sekarang ini.

Sepenggal kisah Einstein di atas memberikan beberapa pelajaran yang sangat penting bagi kita (guru). Pertama, setiap siswa memiliki karakter yangunik dalam al potensi dan kemampuan belajarnya di sekolah. Sebab, setiap karakter yang terdapat pada seseorang merupakan “sidik jari psikologis” yang menjadi cirri khas dan pembeda dengan manusia lainnya. Tugas kita adalah menemukan keungulan yang dimiliki para siswa, kemudian megngembangkannya supaya menjadi karakter yang dominan.

Kedua, guru berperan sebagai motivator bagi para siswanya. Sebagai motivator, guru dituntut mampu menangkap persoalan-persoalan belajar yang dihadapi siswa. Dengan mengetahui dan memahami letak permasalahan yang dihadapi siswa, diharapkan guru dapat memberikan solusi dan motivasi yang tepat bagi mereka. Dalam sejarah kehidupan Einstein, gurunya telah berhasil mengidentifikasikan kesulitan belajar Einstein. Namun, guru-gurunya tidak terburu-buru mengecap Ei

nstein sebagai guru yang bodoh dan terbelakang. Mereka menjadikan matematika sebagai solusi bagi permasalahan belajar Einstein.

Ketiga, guru sebagai fasilitator. Seorang guru dituntut mampu menjembatani siswa dengan cita-citanya. Atinya, guru dan sekolah dituntut proaktif dalam mengantarkan siswa ke jenjang pendidikan selanjutnya sesuai dengan potensi dan kompetensinya.

Setiap siswa diciptakan Allah SWT dengan segenap keunikankarakter. Tugas setiap guru adalah menemukan letak kesempurnaan karakter siswanya, kemudian mengembangkan dan mengarahkannya supaya bias menjadi solusi bagi kehidupan.

Ingat !!

seorang filsuf, Kahlil Gibran pun mengatakan bahwa anak-anak memiliki generasi dan dunianya sendiri.

Dari  Rubrik Forum Guru
Koran Pikiran Rakyat, 8 Juni 2009

Atas nama Septiardi Prasetyo
Guru di MI At-Taufiq, Kota Bandung

Dengan sedikit penambahan