Mungkin ketika kita di didik oleh orang tua  tempo dahulu dimana anak harus taat dan patuh atas perintahnya untuk melakukan ini itu dan melakukan apa yang menjadi harapan orang tua,  tanpa sedikit pun ada rasa ingin tahu orang tua terhadap keinginan dan harapan hati anak, bagi anak hal ini sangat menyakitkan perasaan , hak preogratif yang dimiliki orang tua laksana raja akan menjadi akibat buruk bagi si anak. Dan kini anak – anak mulai berbeda perkembangan jiwanya karena kemajuan teknologi yang pada akhirnya justru berbalik 360 derajat terkadang anak begitu sulitnya mendengarkan nasehat orang tua. gambaran statistik alami ini  yang turun naik atas perkembangan karakter anak dan orang tua dari dulu hingga sekarang adalah sebuah gambaran yang perlu dianalisa bagi orang tua agar bijaksana dalam menasehati dan berkomunikasi terhadap anak.  Inilah sekenario Allah agar kita senantiasa berfikir dengan cara – cara yang bijak.

Orang tua sering kehabisan cara menghadapi anak yang tidak mau mendengar perkataannya. Tapi mereka sering lupa bahwa sebenarnya mereka  juga tidak pernah mendengarkan anaknya, padahal anak juga ingin suaranya yang didengarkan. Hal itulah yang sering membuat komunikasi antara orang tua dan anak bermasalah.     terdapat 12 gaya populer pengasuhan yang sering dilakukan orang tua, yang menjadi penghalang komunikasi antara orang tua dan anak( Erlik Isfandiari, konselor). Kedua belas gaya populer tersebut adalah :

  •  Memerintah. Tujuan orang tua adalah untuk mengendalikan situasi dan menyelesaikan masalah dengan cepat, sedangkan pesan yang ditangkap anak adalah mereka harus patuh dan tidak punya pilihan.
  • Menyalahkan. Orang tua ingin menunjukkan kesalahan si anak, sedangkan tanggapan si anak adalah mereka tidak pernah benar/baik.
  • Meremehkan. Tujuan orang tua menunjukkan ketidakmampuan anak dan orang tua lebih tahu, anak menangkap bahwa dirinya tidak berharga/merasa tidak mampu
  • Membandingkan. Orang tua ingin memberi motivasi dengan memberi contoh tentang orang lain, tapi anak menanggapi bahwa dia tidak disayang, pilih kasih dan merasa dirinya memang selalu jelek.
  • Mencap. Maksud orang tua ingin memberitahu kekurangan agar anak berubah, anak menanggapi dengan merasa itulah saya.
  • Mengancam, Orang tua melakukan agar anak menurut/patuh dengan cepat, tapi anak akan merasa cemas dan takut
  • Menasehati, Maksudnya agar anak tahu mana yang baik dan mana yang buruk, namun anak menganggap bahwa orang tuanya sok tau, bawel dan membosankan
  • Membohongi, Maksudnya agar urusan menjadi gampang, namun anak akan menilai bahwa orang dewasa tidak dapat dipercaya
  • Menghibur. Tujuan orang tua adalah agar anak tidak sedih/kecewa, sehingga anak jadi senang dan tidak larut dalam kesedihan, namun anak akhirnya akan lupa dan melarikan diri dari masalah
  • Mengkritik. Orang tua menginginkan agar anak memperbaiki kesalahan dan meningkatkan kemampuan diri, namun anak akan merasa bahwa dirinya selalu kurang dan salah
  • Menyindir. Memotivasi, mengingatkan agar tidak selalu melakukan seperti itu dengan cara menyatakan yang sebaliknya, anak akan menganggap hal ini menyakiti hati
  • Menganalisa. Orang tua ingin mencari penyebab positif/negative anak atau kesalahannya dan berupaya mencegah agar tidak melakukan kesalahan yang sama lagi, namun anak akan menganggap orang tua sok pintar

Bukankah gaya-gaya tersebut hal yang biasa dilakukan orang tua kepada anaknya? Namun ternyata 12 gaya tersebut merupakan penghalang komunikasi orang tua dan anak, terutama saat kondisi anak dalam keadaan marah, sedih, atau kecewa, dimana sistem limbic (penyimpan perasaan) otak dalam keadaan tertutup, sehingga apapun yang dibicarakan orang lain tidak ada yang masuk ke dalam pikiran anak.

Seni Komunikasi
Untuk menjalin komunikasi yang efektif, maka orang tua harus mendengarkan dengan hati, memperhatikan bahasa tubuh anak, memahami dan menerima perasaan anak. Hal ini akan membuat anak merasa perasaannya penting dan perlu mendapat perhatian sehingga dia merasa nyaman yang membuat dia cenderung untuk berkomunikasi lebih lanjut.Prof. Dr. Mulyono Abdurrahman, dosen Pasca Sarjana, Universitas Negeri Jakarta, mengatakan orang tua perlu membangun seni komunikasi dengan anak supaya hubungan terjalin dengan rasa saling menghormati dan menghargai. Seni komunikasi tersebut dapat dibangun dengan cara :

  • Bersiap menjadi pendengar yang baik. Bila orang tua ingin suaranya didengar oleh anak, mulailah dengan menjadi pendengar yang baik untuk anak.
  • Gunakan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami oleh anak. Jangan membuat bingung anak dengan bahasa yang tidak dimengerti anak.
  • Mulailah dari hal yang terdekat dengan anak, supaya mudah dipahami karena anak masih berada dalam tahap berpikir konkrit.
  • Lakukan kontak mata dan berada di posisi yang sejajar. Dengan posisi yang sejajar, anak akan merasa lebih nyaman dan tidak di bawah tekanan.
  • Sabar dan tidak terlalu banyak koreksi. Anak yang biasa dikritik atau disalahkan, akan merasa takut untuk berkomunikasi.
  • Tidak mendominasi pembicaraan. Berikan kesempatan kepada anak untuk mengemukakan pendapat dan perasaannya.

Jalinan komunikasi yang efektif membuat hubungan anak dan orang tua menjadi hangat, saling menghormati dan menghargai.