Jika anak-anak hidup dengan kritikan, mereka belajar untuk mengutuk.
Jika anak-anak hidup dengan permusuhan, mereka belajar untuk melawan.
Jika anak-anak hidup dengan rasa takut, mereka belajar untuk menjadi memprihatinkan.
Jika anak-anak hidup dengan belas kasihan, mereka belajar untuk merasa menyesal sendiri.
Jika anak-anak hidup dengan olokan, mereka belajar untuk merasa malu.
Jika anak-anak hidup dengan kecemburuan, mereka belajar untuk merasa iri hati.
Jika anak-anak hidup dengan rasa malu, mereka belajar untuk merasa bersalah.
Jika anak-anak hidup dengan semangat, mereka belajar percaya diri.
Jika anak-anak hidup dengan toleransi, mereka belajar kesabaran.
Jika anak-anak hidup dengan pujian, mereka belajar apresiasi.
Jika anak-anak hidup dengan penerimaan, mereka belajar untuk cinta.
Jika anak-anak hidup dengan persetujuan, mereka belajar seperti itu sendiri.
Jika anak-anak hidup dengan pengakuan, mereka belajar bagus untuk memiliki tujuan.
Jika anak-anak hidup dengan berbagi, mereka belajar kedermawanan.
Jika anak-anak hidup dengan kejujuran, mereka belajar sebenarnya.
Jika anak-anak hidup dengan keadilan, mereka belajar keadilan.
Jika anak-anak hidup dengan baik-baik, mereka belajar menghargai.
Jika anak-anak hidup dengan keamanan, mereka belajar untuk memiliki iman dalam diri mereka sendiri dan orang-orang di sekitar mereka.
Jika anak-anak hidup dengan keramahan, mereka belajar di dunia adalah tempat yang bagus untuk hidup.

oleh Dorothy Law Nolte (1924 – 2005)

Permasalahan yang dihadapai sekarang adalah banyak dari siswa – siswi ( mulai dari SD, SMP, dan SMA/SMK ) yang membangkang bukan lagi pada orang tua tetapi dengan gurunya pun demikian, ketidak taatan, ketidak sopanan kerap kali dilakukan tanpa merasa berdosa.
Sesunggunya memang tidak semua kesalahan dilimpahkan pada diri anak itu sendiri tetapi cobalah kita renungkan kembali, sudah sejauhmana kita mendidik anak, dan tentunya orang tualah yag membentuk kepribadian diri anak, akan jadi apa kelak anak kita. mari kita bersama – sama membentuk kepribadian anak dengan komitmen yang tinggi dengan landasan iman yang kokoh. kekokohan Iman tentu akan terbentuk melalui usaha, ikhlas dan kesabaran.
jangan pernah berhenti jangan pernah lelah mendidik anak karena kelak kesuksesan anak pun akan kita rasakan baik bagi anak sendiri, orang tua maupun nusa dan bangsa. kita sedang berjihad menegakkan amal ma’ruf nahi mungkar untuk itu jangan ada kata menyerah dalam mendidik anak, orang tua tidak boleh bertepuk sebelah tangan yang hanya menyerahkan pihak sekolah pada guru agar di didik di ajar dan di bimbing. Dan perlu di ingat bahwa batas waktu yang di gunakan guru untuk mengajarkan dan mendidik hanyalah sedikit batas waktunya. jangan biarkan mereka menjadi liar dan kembali kejaman jahiliah. banyak pertikaian dimana – mana, banyak sudah daerah – daerah yang memisahkan diri untuk berdiri sendiri terpisah pisah dan menyatakan dirinya mampu namun pada akhirnya berujung pertikaian. pertikaian antar daerah, pertikaian antar suku bahkan sekarang-sekarang ini lebih dramastis lagi pertikaian antar kampung dan antar RT. sungguh pemandangan anak bangsa yang menyedihkan.
statistik menunjukkan bahwa tingginya angka kematian karena ulah perbuatan yang tidak baik.
jika hari ini kita tanamkan nilai permusuhan dalam rumah tangga hitung saja 3 anak dalam keluarga, berapa peningkatan volume kejahatan dalam kehidupan. dapat dibayangkan..!!
mari kita tausiahkan diri kita tausiahkan keluarga kita rangkul bersama dan didik dengan didikan yang lurus sesuai fitrah agama. semoga esok kelak kita akan petik generasi yang bijak dan perkasa dalam menyongsong masa depan ..Amiin