Kebersamaan dengan teman – teman selalu dinanti – nanti, ramah, bersahaja, jujur dan selalu tampil ceriah.

berteman padanya gak ada bosannya. dan tentu banyak yang merasa damai dekatnya. siapa dia ?…

Dia biasa dipanggil Ahmad. dalam kesehariannya ia selalu membantu Ayah dan ibu berdagang, karena ayah dan ibunya sudah cukup tua usianya hanya dia lelaki yang dapat membantu keluarga mencari nafkah.

bangun pagi pukul 4 dan pulang pukul 6 setelah itu ia sekolah.

anaknya rajin ia banyak disukai teman – temannya. hanya tak satu pun mengetahui keadaan kondisi keluarga rumahnya. namun bagi teman – teman tak masalah, karena kehadirannya menjadikan inspirasi buat teman – teman, Ahmad pemilik ide – ide yang menyenangkan hati teman – teman. dia lah motivator yang selalu membangkitkan semangat temannya.

setiap ada kegiatan ia lah yang pertama tampil sebagai pemicu keberanian teman – teman yang kemudian menjadi panutan bagi mereka untuk maju.

sudah banyak dari mereka yang merasakan kemajuan akan prestasi belajarnya. kebersamaannya selalu dinantikan dukungan moril Ahmad , tanpa Ahmad turut berpatisipasi suasana menjadi tidak hidup. Ahmadlah yang senantiasa memunculkan ide ide brillian bagi teman – temannya.

“Assalamualaikum sobat, kenapa pada sedih gini, udahlah yang sudah gak perlu di ingat-ingat, masih ada hari esok yang harus kita benahi. lupakan masalahku, aku sudah ikhlas ko kehilangan kekasihku mungkin sudah takdir memisahkan ku dengan dia” tegur Ahmad kepada teman-teman.

“Mad..kamu sungguh tegar, kamu tidak pernah merasakan kesedihanmu. kamu sebagai pembangkit semangat kami, sungguh kamu tegar, Mad..” puji teman – temannya .

singkatnya cerita Pelepasan kelas tiga ….

“Hai teman – teman, ayoo kita jalan – jalan menyambut pelepasan kelas tiga ini. kita rayakan sehari dipuncak . cuma dengan Rp 150.000 saja. kta sudah bisa menikmasi semua fasilitas disana, ok!!” Sahut temannya menyambut pelepasan kelas tiga.

“Gimana Ahmad?” timpal temannya yang lain.

“Ahmad pasti ikut, dia tidak pernah melupakan kita, yah..! karena kita dikasih diskon besar , rugi kalau gak dimanfaatin penginapannya!!”

Ahmad hanya mengangguk agar tidak mengecewakan teman – temannya. dan senang rasa hati teman -teman melihat Ahmad turut serta.

namun pada hari “H” yang dinanti nantikan.

” teman – teman saya mohon maaf kalau saya tidak bisa ikut kalian perpisahan di puncak, karena harus menghadiri keponakan hajatan dan juga harus membantu ibu dan ayah dulu pagi – pagi seperti biasanya, saya harap teman – teman tatap jalan jangan karena aku tidak jadi, ok!! dan semoga kalian bahagia disana” ucap Ahmad pada temannya semua.

“Ok Mad, tapi  nanti kalau bisa, susul kami yah, Mad …kami akan merindukanmu disana” pinta temannya kepada Ahmad.

“baiklah pasti aku menyusul kalian, karen kalian adalah temanku yang terbaik, selamat jalan yah..”jawab Ahmad .

“Ayoo kita jalan” teriak teman – teman.

namun ditengah jalan sebagian teman – teman merasa curiga dengan tingkah Ahmad yang setiap diajak pergi jalan – jalan jauh tak pernah ikut, apalagi pergi yang mengeluarkan biaya .

dalam perjalanan mereka berfikir tentang keadaan Ahmad .

“teman – teman kenapa yah kita jadi gak enak dengan Ahmad, ada apa yah??” saut temannya.

“iya, yah ada apa yah, aku juga ndak enak nih!!” saut teman yang lain.

“bagaimana yah kalo kita sesekali mampir ke rumah Ahmad, karena selama ini kita tidak pernah tahu keluarga Ahmad, kita tahu dia selalu ceriah didepan kita, ia tidak menampilkan sedikitpun kesedihan dan kesulitannya, aku jadi nggak enak dan curiga. karena setiap kali pergi jauh ialah yang memberi semangat kita tetapi kenapa ia selalu beralasan tidak bisa ikut”. Ucap temannya dengan harap bisa mampir  kerumah Ahmad barang sebentar.

“Oh ya..saya setuju banget tuh!!” jawab teman – teman yang lain.

dan pada akhirnya teman – teman memutar balik kendaraannya dan menuju rumah Ahmad.

sampailah diseputar rumah Ahmad namun jalan berkelok kelok.

“sebentar kita tanya dulu dengan tetangganya siapa sih Ahmad sebenarnya” pinta temannya.

“betul!!” jawab temannya yag lain.

ketika terlihat tetangganya yang sedang bersepeda berlalu dari arah tikungan tempat Ahmad tinggal dan  melintas tepat dekat mobil mereka, mereka pun bertanya.

“mas mau tanya, rumah Ahmad dimana yah” tanya mereka kepada teangga itu.

“ooh Ahmad yang rumahnya kecil yah, disana masih sedikit lagi, dekat turunan, di sana ” jawabnya.

mereka kaget saat dikatakan rumah Ahmad kecil. lalu semakin penasaran, mereka pun banyak tanya tentang Ahmad teman baiknya itu.

“mas, kan tetangganya Ahmad. sebenarnya Ahmad itu siapa sih dan bagaimana dengan orang tuanya?” tanya mereka pada tetanggannya Ahmad.

mulailah dijelaskan panjang lebar siapa dan bagaimana keadaan Ahmad sebenarnya.

” Ahmad anak yang ceriah, ia tidak akan memperlihatkan kesulitan dan kesedihan dihadapan teman – teman , walaupun ia sendiri sedang sulit dan sedih, saat ingin berangkat sekolah pun Ahmad terkadang tidak makan, sesekali jatah makannya pun disisihkan buat makan adik – adiknya yang masih lapar, ia suka puasa bahkan untuk jajan sekolah pun ia tidak pernah minta kepada orang tuanya yang sudah tua karena takut adiknya tidak bisa sekolah. Ahmad tidak ingin melihat temannya sedih melihat keadaan dirinya  seperti ini, untuk itu ia selalu menutupi dirinya dengan ceria . ia senang dengan kalian, ia senang membantu kawannya, ia sempat cerita akan perpisahan tetapi ia tidak punya uang untuk pergi. ..” cerita tetangganya kepada teman – teman Ahmad.

teman – temannya kaget mengira selama ini Ahmad benar-benar menikmati kehidupan yang menyenangkan.

sebagian dari mereka sedih tak tertahankan dan meneteskan air mata, mereka merasa bersalah kepada Ahmad.. selama ini telah mangambil kebahagiaan dibalik kesedihan dan derita Ahmad.

“terima kasih mas ” saut temannya.

tanpa pikir panjang mereka langsung menuju rumah Ahmad.

Terlihat dari kejauhan Ahmad sedang duduk – duduk diteras depan sendirian sambil merenung . disana lah ia biasa sendiri… diteras tanah yang berbangku kayu bambu dan biasanya menemani adik – adiknya bermain.

“Mad.. Mad..! ” panggil teman-temannya teriak.

“hai!!”.. saut Ahmad

dipeluknya Ahmad dengan erat. mereka selama ini merasa bersalah kepada Ahmad. mereka yang selama ini salah memandang Ahmad . tapi hari ini mereka tahu dengan mata kepala sendiri.  inilah kehidupan Ahmad sesungguhnya.

namun saat ini mereka tidak lagi di bohongi dengan mimik ceriah Ahmad. mereka tahu sesungguhnya kehidupan Ahmad yang sebenar – benarnya.

“Mad..! kami tahu siapa kamu.. dan jangan bohongi kami lagi.  Ahmad kami mohon maaf kalau selama ini kami salah memandangmu..kami udah buta..Mad kau memang anak soleh anak yang bisa dibanggakan teman – teman, kamu sebagai spirit kami, tapi kami mohon Mad jangan bohong  kami lagi. jangan umbar ceriah dan senyummu dibalik keadaanmu yang sebenarnya..kami mengerti keadaanmu semua ..”

Ahmad pun tak mampu lagi mengelak dan menutupi semua sandiwara ini, selama berteman dengan kawan – kawan  dibangku sekolah, ceriah dan senyum Ahmad adalah duka dan derita Ahmad dirumah.

Ahmad anak yang cerdas banggaan bagi kawan – kawannya.

“teman-teman..aku sudah biasa dengan kehidupanku ini, hari – hari kulewati bersama adik – adik bersenda gurau di gubuk ini. Aku akui aku tidak ingin berpisah dari kalian namun karena aku ingat adik dan orang tuaku yang tak lagi mampu, jadi aku tak bisa ikut, memang aku bohong namun semua itu dengan harapan aku tak ingin rencana kalian gagal karena melihat keadaanku, aku tidak ingin kalian kecewa karena aku. sungguh aku bangga kalian bisa bersama dengan yang lain, disini aku hanya bisa mendoakan kalian agar senantiasa lancar dan berkah”.

” Stop Mad… jangan terusin ,  hari ini kami jauh lebih bangga jika kamu sudi  ikut bersama dengan kami. ” pinta teman-temannya.

” tapi..” sergah Ahmad.

” Mad kami tahu, kami yang menanggung semua biaya perpisahan ini, uang tak seberapa besra nilainya bagi kami, tapi kehadiranmu.. utama bagi kami. Mad ..mau, kan?” pinta temannya kepada Ahmad.

memang sudah sifat Ahmad yang tidak ingin melihat teman – temannya berlarut sedih. ia tetap saja mengumbar senyuman tanda rasa terima kasih atas kesetiaan teman -temannya yang sudi menerima keadaannya apa adanya.

*** demikian cerita ini semoga menjadi pelajaran bagi kita bahwa hidup itu memang harus dinikmati, baik suka maupun duka pasti menghampiri kita dan tak lagi kta mampu mengelak, inilah Qodlo dan Qadar Allah SWT. biarkan hidup bagaikan air mengaklir ***

” DENGAN SABAR KITA AKAN MEMPEROLEH PAHALA, DENGAN SENYUM CINTA_NYA YANG DIDAPAT”