KEBOHONGAN SI INTELEK BULUKAN PADA WONG NDESO

Perjalanan kehidupan dunia merupakan ajang bagi para intelektual yang tak beriman.Jembatan yang tepat bagi experimen bejatnya bagi keberhasilan otak bobroknya, melalui langkah – langkah yang tidak terduga( bisa samar tapi pasti, tidak tampak tapi terasa, bahkan ada yang benar-benar terang – terangan tanpa ada rasa malu dan dosa ).

implementasi atas teoritas kapada kaum bawah merupakan sasaran uji coba penelitia yang paling empuk, karena kebodohan mereka yang tak mampu membedah sebuah permainan intelektual kelas atas.

dari dunia pendidikan yang begitu tinggi level pemikiran serta yang berorientasi pada kebarat – baratan membuat koslet hati para intelektual lokal,  konyolnya lagi hati mereka pun  ikut kebarat – baratan. tak habis pikir akan dibawa kemana kita manusia. yakin bahwa ini adalah sebuah pencarian jalur materi besar – besaran, dimana semakin dicari maka semakin haus rasanya untuk terus mencari tanpa henti, saking hausnya tak peduli hak orang dibajaknya, dengan tipu muslihat inteleknya..

teringat sebuah kisah perjalanan seorang ahli marketing:

mencoba untuk mempraktekkan keahliannya sebagai marketing handal pada rakyat sebuah pedesaan. lulusan universitas bonafit antar dunia – akherat, seperti itulah kira-kira.

“bapak apakah ada beberapa monyet di daerah sini yang bisa saya beli dengan harga Rp 30.000 per ekor, boleh cari sebanyak-banyaknya yah. atau mungkin bapak bisa cari, besok saya kembali kesini “, pinta orang intelek kepada beberapa penduduk desa.

“boleh pak saya coba cari kalo itu mau tuan. yang penting jangan bohong. karena sudah banyak orang yang pintar, minterin orang ampe pusing keblinger” sahut orang-orang ndeso.

Esok  datang tepat waktu, padahal waktu masih pagi orang masih bertani dan berkebun, namun sudah menjadi prinsip mereka bahwa “waktu adalah uang”  itulah prinsip mereka yaitu intelek  bulukan tersebut.

” bagaimana bapak – bapak sudah disiapkan pesanan saya, saya tidak ada waktu berlama – lama disini, ada urusan lainnya” ungkap orang intelek. sambil mengeluarkan uangnya .

segera orang – orang ndesa memberikan monyet – monyet hasil tangkapannya di hutan.

“ini tuan semua kami berikan pada tuan sesuai keinginan tuan dan harga yang tuan minta”.jawab mereka wong ndeso.

“Ok terima kasih yah, senang bisnis dengan saudara – saudara, nanti saya kesini lagi kalau ada waktu” jawab orang intelek bulukan sambil pamit pulang.

kurang dari dua minggu intelek bulukan datang bersama orang pribumi untuk memenuhi hasrat keinginan yang terselubung tersebut.

” selamat pagi bapak -bapak, apa bapak – bapak masih ingat saya. saya datang ingin beli itu monyet – monyet lagi’, pinta intelek bulukan pada penduduk ndeso itu.

“wah tuan sekarang monyet – monyet semakin langka, kalo cuma harga yang dulu kami tidak mau, kalo mau.. tuan cari sendiri” jawab penduduk .

” oh begitu, tapi jangan mahal sekali yah . bagaimana jika Rp 40.000 saja” pinta si intelek buluk.

“oke..oke tuan” jawab wong ndeso dengan senang.

saat itu juga penduduk rupanya sudah menyiapkan hasil buruan monyet – monyetnya. dan transaksipun segera diselesaikan.

singkatnya si intelek bulukan meminta pada penduduk untuk kali yang terakhir bahwa dirinya seminggu lagi akan pulang kedaerahnya disebrang lautan.

“saudara – saudara saya mungkin ini yang teakhir karena satu minggu lagi saya harus kembali ke negara saya, mungkin kalau saudara bisa dalam dua hari menyiapkan monyet – monyet lagi dan saya hargai Rp 60.000, saya akan suru teman saya untuk mengambil dan membayar pesanan saya, bagaimana apakah bisa?”,

dengan senang disambut keinginan si intelek buluk tersebut, ” oke..oke..  ( begitulah gaya wong ndeso hanya bisa oke..oke )

ternyata monyet – monyet di hutan sudah tidak tampak lagi, dan sulitnya mencari monyet – monyet hutan. pikiran yang sudah diselimuti uang membuat mereka gelap lahir bathin. Mereka mencari dan terus mencari. tiba tiba di suatu pasar terlihat monyet – monyet yang dijual dengan harga yang lebih mahal. walaupun dengan harga Rp 50.000 merka membelinya, karena pikir mereka masih ada lebih Rp 10.000 yang menjadi keuntungan mereka.

setelah dua hari di nanti si intelektual buluk  belum kunjung tiba. Pagi yang cemas dan tak karuan..hingga siang, tiba sore belum juga kunjung tiba….dasar Bule!! sentak beberapa orang penduduk.

Alhasil mereka pun tak lagi menjumpai si buluk hingga satu minggu. padahal satu minggu waktu ia pulang ke daerah sebrang sana.

kabar bahwa monyet – monyet yang dibeli merupkan hasil yang mereka jual kepada Bule tersebut, karuan saja mereka. tidak menyangka bahwa mereka sudah tertipu oleh otak Bulus si intelek buluk.

sungguh strategi marketing yang penuh kebohongan, banyak sudah yang kecewa padahal mereka berharap keuntungan yang didapat dan bukan menjadi buntung. untuk menutupi kehidupan sehari – hari mereka, mereka hanya bertani dan berkebun.

Sungguh perbuatan yang tak etis dalam pergaulan kehidupan sosial. Rakyat kecil, rakyat minim pendidikan menjadi korban para elit intelek yang tak berhati.

Pikiran barat… hati barat… dan KTP Islam. Beginilah kehidupan saat ini yang orientasinya kepada materi belaka. coba saja jika otak barat hati mekah  akan lebih baik.

memang tak salah ini hidup, memang tak perlu dipungkiri jalur kehidupan  sudah ditetapkan sesuai dengan garisan masing – masing.

Namun bukankah kita dapat melihat sejarah dalam Alqur’an, melihat sejarah yang sudah  dilukiskan oleh Allah agar kita senantiasa berpikir dan mengambil hikmah hidup yang pada akhirnya dikembalikan kepada kita untuk tetap lurus dalam jalan menuju ridhlo Illahi.

kebohongan menjadi hal lumrah dibumi ini. penipuan adalah jalan mengais rizki disaat hidup terjepit. fitnah adalah jalan peluang meraih mimpi – mimpi.

kejadian diluar sana jauh lebih komplek dari kisah diatas tersebut, dari level bawah sampai level atas semua penuh dengan prilaku amoral. dari  organisasi kecil sampai kepemerintahan pun tak luput dari politik kebohongan.

merenung sejenak..

Adakah yang belum dicontohkan oleh Allah kepada kita dalam hidup sebagai hambaNya?

Apakah Allah tidak memberi pedoman hidup pada hambanya  ?

Siapakah yang patut disalahkan dari semua ini ?

By Me