(Sekelumit Kisah nyata wanita sebagai staff Adm Keuangan,

istri dituntut mengikuti keinginan sang suami )

Dalam setiap kehidupan kita sehari – hari tentunya akan mengalami pasang surut. Laksana iman terkadang naik dan terkadang surut, begitulah gambaran seluruh hidup dalam kehidupan.

Ingatkah kita saat perjumpaan pertama dengan kekasih. Rasanya Lebih banyak mengungkapkan yang baik – baik dan manis-manis. Sementara kejelekan kita sedikitpun tak terungkap bahkan disembunyikan rapat-rapat, andai bisa diletakkan dibawah bumi mungkin ditaruhnya dan dikuburnya dalam-dalam dibawah bumi.

Perjalanan seorang kekasih yang bernama Nunung Halimah dan kekasinya Juanda S yang satu dari Jakarta dan yang satu dari Sumatra Barat, mereka kini tinggal di daerah Banten

“Adik manis kakak menerima adik apa adanya ko, kita tahu zaman memang sulit andai adik kerja apa saja juga tidak apa-apa”, ungkap Juanda.

“ terima kasih yah ka, kakak begitu baik pada ku. Saya bersyukur jika ditakdirnya bersama Kakak” jawab Nunung.

” Awal sebuah kehidupan bukan berarti akhir dari sebuah kehidupan “

 

inilah yang dialami mereka bedua kini dalam mahligai rumah tangga.

kehidupan yang begitu keras, lingkungan kehidupan pergaulan yang serba komplek akan membawa banyak pengaruh terhadap kejiwaan sesorang.

Mampukah kita membawa dan meletakkan ungkapan-ungkapan yang pernah diikrarkan dulu ketahta yang lebih tinggi sebagai symbol akhir perjalan kehidupan. Artinya perkembangan sesorang baik maju dan mundurnya sudah ada yang menentukan kita manusia biasa hanya bisa berdoa dan berusaha semaksimal mungkin, dan Allah jua yang menentukan. Tidak ada sesorang pun yang ingin hidup statis dan tak ada perobahan yang baik.

Ungkapan tersebut diatas merupakan ungkapan yang menggambarkan jika terjadi kehidupan yang pahit sekalipun artinya harus siap dan terus dijalankan, walau bagaimana pun, mau atau tidak resiko hidup itu harus diterima .

Memang dalam hidup ada dua kemungkinan :

Pertama, kenyataan yang sesuai dengan harapan kita dan kedua, kenyataan yang tidak sesuai dengan harapan kita.

Dari dua hal ini, kita akan lebih mudah untuk menerima kenyataan yang sesuai dengan harapan kita, daripada kenyataan yang tidak sesuai dengan harapan kita. Sebagai akibatnya, ketika kita tidak mampu menerima kenyataan yang tidak sesuai harapan kita,  kita akan menjadi menderita. Dalam banyak kasus seperti stress berat, hilang ingatan, sampai bunuh diri, sebagian besar disebabkan oleh ketidak mampuan untuk menerima kenyataan yang tidak diharapkan

Singkat cerita…

Mereka kini bekerja sebagai sebagai guru di sekolah swasta yang cukup ternama dan suaminya sebagai PNS dan juga mengajar di swasta.

Alhamdulillah mereka kini sudah punya anak dua juga punya pembantu. Dilihat dari kehidupannya memang sudah cukup apalagi punya pembantu, menunjukkan kehdupan yang cukup mapan . namun rupanya dibalik itu sang suami berharap lebih dari keinginan istrinya.

“ Bu kamu ngapain jadi staff keuangan sekolah gak ada harganya, udahlah jadi guru aja kamu akan dihargai ketimbang jadi staff bagian keuangan”.ungkap sang suami kepada istri. Istri pun terdiam sesaat.

“ Yahkanaku juga ngajar dengan jam yang disesuaikan dengan tugasku sebagai staff Adm Keuangan, aku pun dapat intensif bulanan ko, Yah”. Saut istri.

“Apakah dengan jam sedikit kamu bisa ikut sertifikasi” kamu gak mikir”, tambah sang suami. Istri dan tak dapat menjawab. Pikiran sembari dikerucutkan. Dalam hati berkata, “ jika aku harus mengajar full maka aku harus belajar dengan materi yang baru, padahal aku sudah senang dengan materiku sekarang dan dengan tugasku sebagai kepercayaan sekolah menjadi Staff keuangan,..mmm..akucapesekali”.

Sang suami ingin istrinya bekerja sebagai guru saja dan jangan bagian keuangan. Menurut sang suami karena lebih dihargai dan akan mendapatkan insentif tahunan. Karena memang sang istri juga karyawan senior disana, disamping kerja sebagai guru, istri juga sebagai staf adm. Keuangan sekolah. Atau tata usaha bagian keuangan. Dengan gaji lebih dari cukup, bisa untuk buat makan, minum, bayar listrik, telepon juga bayar pembantu. Istri pun ikut asuransi kesehatan untuk kedua anaknya.

Sebenarnya enak sekali mereka, dua – duanya bekerja dan menghasilkan. Suami PNS tentu gajinya bisa ditabung. Dan digunakan untuk lainnya.

Namun sang suami memandang lain, ada sesuatu yang bisa mendatangkan lebih sehingga terlarut untuk mendapatkannya.

Sang suami berharap istri bisa sertifikasi dan setelah itu bisa masuk PNS.

Dan apalagi setelah ini!!. Keinginan manusia tidak pernah akan ada habisnya.

Tentu akan muncul keinginan – keinginan baru setelahnya.

Tatapi sang istri begitu senang dengan bagian keuangan seakan sudah menjadi darah daging pekerjaan itu. Akan tetapi sang suami tetap bersih keras untuk meninggalkan bagian keuangan.

Sang istri merasa stress menghadapi sang suami. Bukan itu saja jika istri terfokus mengajar tentu jam guru lain akan berkurang, jadi bukan dari sang suami akan bermasalah juga dari guru lain yang merasa dikurangi juga istri akan bermasalah, bukan sampai situ saja, istri pun harus membuka kembali materi – materi yang sudah lama ditinggalkan.

Ungakapan pertama saat – saat indah dulu sudah tiada, hilang terbawa nafsu dunia.

Padahal dihargai atau tidak sesorang adalah jikalau seorang hamba itu taat dan patuh kepada Allah serta menjalankan agamanya dengan lurus, maka Allah akan mengangkatnya menjadi mulia di sisi manusia. Dan bukan karena nafsu dunia hasil buah akal – akalan. Dan juga bukan andai – andai. Tidak lah sama pikiran Allah dengan ciptaannya. Sungguh Allah maha Strategi atas apa apa yang di berikan. Tentu  ADA HIKMANYA semua bisa berjalan seperti ini..

Aku dan nafsu keinginan inilah, yang menjadi penyebab kita sulit untuk menerima kenyataan yang tidak diharapkan.
Konsep Aku
Dalam diri kita, konsep aku yang telah tertanam dan mengakar kuat menjadikan kita sulit untuk menerima kenyataan. Karena ketika ada konsep aku, kita akan dengan mudah mengklaim sesuatu sebagai milikku, seperti konsep ini sandalku, ini sepatuku, dan apa yang terjadi andaikan sandalku atau sepatuku itu hilang, “bisakah kita menerima kenyataan ini?” Tentu tidak mudah. Inilah yang dimaksud selama ada konsep aku, maka kita sulit menerima kenyataan yang tidak diharapkan.
Nafsu Keinginan
Selain konsep aku, nafsu keinginan juga menjadikan kita sulit untuk menerima kenyataan, karena nafsu keinginan selalu mengarahkan untuk mencari kesenangan-kesenangan. Dari kebiasaan yang selalu menuruti kesenangan menimbulkan kecenderungan untuk sulit menerima yang tidak menyenangkan. Seperti hal seseorang yang terbiasa hidup enak kemudian hidup susah, tentu akan tidak mudah untuk menerima kenyataan ini.

Nafsu keinginan juga memiliki kecenderungan untuk tidak mau berpisah dengan yang menyenangkan, sehingga selama seseorang masih diliputi nafsu keinginan, selama itulah, ia akan sulit menerima kenyataan yang tidak diharapkan.

Agar kita dapat menerima kenyataan yang tidak diharapkan, tentu dengan membebaskan diri dari konsep Aku dan juga membebaskan diri dari cengkraman nafsu keinginan. Karena ketika kita sudah membebaskan diri dari konsep aku dan nafsu keinginan, kita dapat menerima kenyataan sebagai mana adanya dan tidak lagi memihak antara yang diharapkan dan yang tidak diharapkan.

By Me

Advertisements